Berita Terkini

TINDAK LANJUTI DATA ANGGOTA TNI ALIH STATUS DARI GARNISUN TETAP III

Hupmas, KPU SURABAYA- Di sela-sela kesibukan melaksanakan rangkaian acara peringatan kemerdekaan RI ke-71, KPU Surabaya melaksanakan rapat pleno rutin mingguan pada Senin (15/08/2016). Rapat pleno perdana pasca pembagian ulang divisi untuk komisioner dipimpin oleh Ketua KPU Surabaya, Robiyan Arifin. Terkait pemutakhiran daftar pemilih berkelanjutan, Robiyan mengemukakan bahwa KPU Surabaya telah mendapatkan respon dari Komando Garnisun Tetap III/Surabaya Perihal Data Alih Status Anggota TNI. Rapat pleno meminta Divisi Perencanaan dan Data yang juga dibidangi oleh Robiyan untuk menindaklanjuti data tersebut. ”Data ini akan segera ditindaklanjuti oleh operator Sidalih (Sistem Informasi Data Pemilih),” ujar Robiyan. Selain membahas pemutakhiran daftar pemilih berkelanjutan, Rapat Pleno kali ini juga membahas persiapan upacara peringatan HUT RI ke-71 yang jatuh pada Rabu (17/08/2016). Robiyan menerangkan, berdasarkan Surat Edaran KPU RI Nomor: 457/KPU/VIII/2016 perihal Pelaksanaan Upacara Bendera Memperingat Hari Ulang Tahun ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2016, KPU Kabupaten/Kota beserta Sekretariat melaksanakan upacara bendera pada unit kerja masing-masing atau bergabung dengan Pemerintah Daerah setempat. Adapun tema yang diangkat adalah ”Indonesia Kerja Nyata”. ”Kita laksanakan upacara bendera pada rabu nanti dengan penuh hikmat sebagai ungkapan syukur atas kemerdekaan RI yang saat ini kita nikmati,” tutur Robiyan.

TURNAMEN CATUR MELATIH KONSENTRASI DAN KONSISTENSI KERJA

pHupmas, KPU SURABAYA- Setelah menyelesaikan rangkaian pertandingan bulu tangkis dan tenis meja, masih dalam rangka memperingati HUT RI ke-71, KPU Surabaya menyelenggarakan turnamen catur. Turnamen catur digelar selama satu hari penuh pada Kamis (11/08/2016).  Sebanyak 16 orang menjadi peserta turnamen catur tersebut. Peserta turnamen berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, staf sekretariat, komisioner, hingga mantan kasubbag KPU Surabaya. Pertandingan berjalan alot. Masing-masing peserta berjuang untuk mendapatkan poin kemenangan. Turnamen catur menggunakan Swiss System. Sistem ini pertama kali dipakai di Zurich, Swiss pada tahun 1895, kemudian dikenal dengan nama Sistem Swiss. Sistem Swiss merupakan sistem terbaik untuk pertandingan catur terutama yang melibatkan banyak peserta. Setiap pemain terus bermain selama jumlah babak yang ditentukan, tidak masalah apakah menang ataupun selalu kalah. Seorang pemain yang kalah pada babak-babak awal, tidak berpeluang untuk bertemu dengan pemain-pemain teratas. Artinya  bila kita ingin bermain dengan seorang master, jangan kalah pada babak-babak awal karena lawan kita tetap yang selevel dengan kita. Setelah melalui pertandingan panjang, akhirnya Turnamen Catur KPU Surabaya Memperingati HUT RI ke-71 tersebut dimenangkan oleh Mochamad Fatoni (Staf Subbag Umum). Sebagai juara kedua adalah Miftakul Ghufron (Komisioner KPU Surabaya). Sedangkan Juara III ada Arif Wijaksono (Staf Subbag Program dan Data). Peraih Juara Pertama Turnamen Catur Memperingati HUT RI Ke 71, Mochamad Fathoni, mengaku kompetisi catur yang dilaksanakan pada hari Kamis (11/08/2016) cukup ketat dan tak menyangka bisa menyabet juara pertama. “Saya memang senang catur sejak dulu. Bahkan cita-cita saya dulu  bisa menjadi juara dunia grandmaster catur, ” kata pria asli Surabaya itu.  Fathoni pun tak sungkan memberi tips ketika bermain catur. Menurutnya dibutuhkan ketenangan ekstra  ketika bermain catur, jangan sampai terpancing emosi lawan main. Selain itu, kemampuan bermain catur tidak akan membaik jika dalam diri kita masih ada perasaan minder dari kekalahan dengan lawan, jadi tergantung lawannya kuat atau lemah. Bermain catur memang mengasah otak, semakin terus kita mau belajar semakin mahir. “Seseorang yang mempunyai sifat raja maka ia akan mampu mensiasati walau lawannya kuat. Istilahnya catur itu ibarat prajurit, harus menyerang atau bertahan dari serangan pasukan lain,” ungkap Cak Toni. Sementara Miftakul Ghufron, Sang Juara Kedua, mengungkapkan, turnamen catur mengajarkan kepada staf sekretariat KPU Surabaya untuk terus berjuang dan pantang menyerah dalam melaksanakan pekerjaan. ”Tugas penyelenggaraan Pemilu membutuhkan konsentrasi tinggi dan waktu yang lumayan panjang. Turnamen catur ini melatih kita untuk memiliki daya tahan untuk berpikir dalam waktu yang lama namun dibatasi oleh waktu,” tutur Ghufron. Bapak dua anak itu menambahkan, sebagai penyelenggara pemilu  yang berintegritas, catur juga melatih kita untuk bersikap konsisten dan adil. ”Tidak boleh merubah langkah bidak catur setelah diletakkan di papan catur. Sebagai penyelenggara Pemilu kita juga harus konsisten dan adil dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan,” pungkas Ghufron.

PARTISIPASI PEMILIH BUKAN SEKEDAR DATANG DI TPS

Dari Pemilu ke Pemilu, kurangnya partisipasi pemilih di Surabaya selalu menjadi perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya adalah peneliti FISIP UIN Sunan Ampel, Moh. Ilyas Rolis. Berikut adalah hasil wawancara Hupmas KPU Surabaya dengan Ilyas Rolis.  Secara umum, bagaimana anda melihat karakter masyarakat perkotaan memandang hubungan antara Pemilu/Pemilihan dengan perbaikan taraf kehidupan mereka? Justru yang melihat hubungan antara Pemilu dengan perbaikan taraf hidup adalah masyarakat pedesaan. Di pedesaan, memang angka kehadiran pemilih di TPS relatif tinggi. Namun, yang terjadi seringkali bukan partisipasi melainkan mobilisasi pemilih. Partisipasi pemilih lahir dari kesukarelaan masyarakat untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan Pemilu. Sementara mobilisasi hadir karena adanya transaksi material kepada pemilih yang memotivasi mereka untuk hadir ke TPS. Mobilisasi ini digerakkan oleh partai politik maupun tim sukses. Pada masyarakat perkotaan di mana tingkat pendidikan dan ekonomi relatif lebih mapan, mobilisasi transaksional semacam ini tidak banyak terjadi. Kalaupun ada, terjadi pada kantong-kantong kemiskinan kota. Inilah tantangan yang sesungguhnya, transaksi ekonomi dalam demokrasi.   Bagaimana anda melihat tingkat partisipasi masyarakat perkotaan dibanding masyarakat pedesaan dalam setiap penyelenggaraan Pemilu/Pemilihan? Selama ini partisipasi pemilih selalu diukur dengan prosentase kehadiran di TPS. Namun, menurut saya, partisipasi pemilih tidak hanya diukur dari kehadiran pemilih di TPS. Partisipasi pemilih dikatakan tinggi jika melahirkan gerakan sukarela dari warga masyarakat yang mampu melahirkan profil pemimpin yang berkualitas dan disukai pemilih. Jika indikatornya semacam itu, maka menurut pengamatan saya, partisipasi pemilih di perkotaan, terutama di Surabaya sudah cukup bagus.   Simulasi Pemungutan dan Penghitungan Suara, 8 November 2015   Memang, kadang partisipasi berbanding terbalik dengan mobilitas. Yang datang ke TPS bisa jadi tidak banyak, namun mampu melahirkan pemimpin yang profilnya mendekati harapan pemilih. Demikian pula sebaliknya, angka kehadiran pemilih di TPS tinggi, namun pemimpin yang dihasilkan ternyata kurang sesuai dengan harapan masyarakat. inilah kekhawatiran dari demokrasi yang dibajak oleh penguasaan materi untuk mobilisasi.   Secara umum, bagaimana antusiasme warga Surabaya terhadap pelaksanaan Pilwali Surabaya 2015?  Jika indikator dari antusiasme adalah partisipasi, maka kita bisa melihat hasil Pilwali 2015 lalu. Beberapa media menyebutkan, pasangan Risma-Whisnu menang di hampir semua TPS kecuali dua TPS di Dolly. Inilah bentuk antusiasme warga Surabaya. Partisipasi yang susah untuk dibajak. Semacam ini tidak akan muncul di daerah yang pemilihnya dimobilisasi. Sudah saatnya kita merubah paradigma, partisipasi pemilih tidak hanya diukur secara kuantitas. Partisipasi pemilih juga harus dilihat, bagaimana pemilu menghasilkan pemimpin yang berkualitas.   Pada  Pilwali Surabaya 2015, apakah pemilih di Surabaya sudah berpartisipasi secara aktif dalam setiap tahapan penyelenggaraan atau hanya aktif dalam artian menggunakan hak pilih di TPS? Dari beberapa sosialisasi yang dilakukan KPU Surabaya melalui media, tampak antusiasme yang besar dari masyarakat. Setiap kali ada talkshow  yang membahas Pilwali Surabaya, selalu mendapat sambutan yang besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya umpan balik berupa telepon pertanyaan maupun komentar secara live  saat talkshow. Bahkan, saya pernah melihat talkshow dimana pemirsanya menelepon dan meminta agar alat peraga kampanye dipasang sampai ke RT RW, tidak hanya di kelurahan. Padahal KPU Surabaya sendiri memang dibatasi oleh peraturan mengenai pembatasan alat peraga kampanye.   Lantas, apa saja faktor yang mempengaruhi kurang optimalnya partisipasi masyarakat Surabaya pada Pilwali 2015? Sekali lagi, partisipasi pemilih bukan sekedar datang ke TPS. Kalau cuma datang ke TPS, yang terjadi seringkali justru mobilisasi. Namun, tetap harus diteliti penyebab kurangnya angka kehadiran pemilih di TPS. Saya melihat masyarakat Surabaya menganggap Pemilu sebagai liburan. Sehingga, ketika hari pemungutan suara menjadi hari yang diliburkan, yang ramai bukan TPS malah mall dan tempat hiburan keluaga. Mungkin perlu ditambah TPS keliling di mall dan tempat hiburan keluarga . Sehingga mereka bisa menggunakan hak pilih sambil memanfaatkan hari libur. Di sisi lain, masyarakat memang masih perlu ditingkatkan kesadarannya mengenai pentingnya partisipasi pemilih dalam melahirkan pemimpin yang berkualitas.    Apakah program dan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan KPU Surabaya saat pilwali 2015 sudah cukup menyentuh masyarakat? Jika yang dimaksud sosialisasi adalah bagaimana KPU Surabaya memberikan informasi mengenai hari, tanggal pemilihan dan tata cara menggunakan hak pilih, rasanya sudah cukup. Namun, jika sosialisasi mencakup pendidikan pemilih yang meliputi bagaimana melihat karakter pemimpin yang baik, hak dan kewajiban warga negara, maupun rekam jejak calon pemimpin, hal ini memang masih kurang. KPU mungkin merasa riskan untuk melakukan pendidikan pemilih semacam ini. Jika demikian, KPU dapat menggandeng akademisi untuk memfasilitasi pendidikan pemilih.   Masukan bagi KPU Surabaya terutama untuk kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat pada Pemilu dan Pemilihan berikutnya? KPU Surabaya perlu menambah pengetahuan dan wawasan mengenai kecenderungan karakter masyarakat urban. Bisa juga menggandeng peneliti untuk membantu mengetahui karakter masyarakat urban dan bentuk sosialisasi yang paling tepat untuk mereka. Sehingga, partisipasi pemilih dalam pemilu dapat meningkat.

KOMPETISI OLAHRAGA KEMBANGKAN JIWA SPORTIF UNTUK PENYELENGGARA BERINTEGRITAS

Hupmas, SURABAYA- Pertandingan aneka olah raga di KPU Surabaya dalam rangka memperingati HUT RI ke-71 sudah mencapai babak final pada Kamis (11/08/2016). Lomba tenis meja dan bulu tangkis baik putra maupun putri sudah mendapatkan juara. Semua lomba berjalan seru. Masing-masing individu yang berlaga di babak final mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sebagai juara I lomba bulutangkis putri adalah Kwartika Candra Dewi (Staf Subbag Hukum) dan Juara II adalah Endang SAR (Bendahara). Sedangkan juara I Lomba Tenis meja adalah Nurul Amalia (Komisioner KPU Surabaya Divisi Teknis) dan Endang SAR kembali menjadi juara II. Setelah sebelumnya Dwi Setro Hartokumoro meraih juara I dan mengalahkan Sekretaris KPU Surabaya, Sunarno Aristono, pada lomba tenis meja putra, Arif Wijaksono (Staf Subbag Program dan Data) menyusul dengan meraih gelar juara pada lomba bulu tangkis. Arif yang di babak final melawan Mochamad Fatoni (Staf Subbag Umum) harus berjuang tiga set untuk dapat memenangkan pertandingan.  ”Game pertama saya terlalu bermain santai, sampai-sampai kewalahan. Untungnya pas akhir-akhir saya bisa merubah permainan dengan berani banyak menyerang, walaupun akhirnya kalah di game pertama. Di game kedua saya berusaha membalikkan keadaan dan akhirnya malah bisa merebut game kedua dan ketiga, senang akhirnya bisa juara walaupun capek” tutur pria kelahiran Situbondo ini. Sementara itu, Fatoni pun harus mengakui ketangguhan lawannya. “Game kedua main kuat-kuatan saja. Siapa yang lebih kuat dan siap, udah pasti yang akan menang. Dan Arif ternyata lebih tangguh daripada saya dan lebih siap, capek tapi senang walaupun hanya bisa meraih Juara ke 2, ” ungkap Toni demikian biasa disapa. Komisioner KPU Surabaya Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat, Nur Syamsi, mengemukakan, pertandingan olah raga ini memang tidak hanya untuk menyemarakkan peringatan HUT RI. ”Kompetisi olah raga dapat mengembangkan jiwa sportif. Apalagi, KPU bekerja pada ranah yang membutuhkan integritas,” tutur pria asli Lamongan tersebut.

CEK RUTIN GUDANG SEMBARI TUNGGU SURAT ANRI TENTANG PENGHAPUSAN

Hupmas, KPU SURABAYA- Sesuai dengan jadwal rutin dua kali dalam sebulan, KPU Surabaya kembali melakukan pengecekan berkala ke gudang. Pengecekan dilakukan pada Selasa (09/08/2016) oleh Komisioner Divisi Umum, Keuangan, dan Logistik, Miftakul Ghufron, bersama Kasubbag Keuangan, Umum, dan Logistik, Agus Setiyono. Miftakul Ghufron mengemukakan, kegiatan cek rutin ke gudang KPU Surabaya dilakukan untuk melihat kondisi gudang. ”Gudang dalam kondisi baik dan terjaga dengan baik,” ungkap Ghufron. Alumni UIN Sunan Ampel itu menambahkan, gudang dijaga 24 jam oleh penjaga gudang bernama Wiranto. Ghufron menambahkan, kegiatan rutin cek gudang ini dilaksanakan sembari menunggu surat balasan dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) terkait penghapusan surat suara. Adapun surat suara yang akan dihapus adalah surat suara Pilwali 2010, Pilgub 2013, serta Pileg dan Pilpres 2014. ”Setelah mendapat balasan dari ANRI, KPU Surabaya akan berkoordinasi dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) untuk melakukan lelang penghapusan surat suara tersebut,” ujar Ghufron.

KPU SURABAYA KEMBALI BAHAS KELENGKAPAN ADMINISTRASI PENGAJUAN BANPOL

Hupmas, KPU SURABAYA- KPU Surabaya kembali diundang oleh Bakesbang, Politik, dan Linmas Kota Surabaya untuk melaksanakan pembahasan kelengkapan administrasi pengajuan permohonan bantuan keuangan partai politik tahun anggaran 2016 pada Senin (08/08/2016). Turut hadir dalam rapat tersebut adalah Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan, Bakesbang, Politik, dan Linmas, Bagian Hukum, Bagian Organisasi dan Tata Laksana, serta Bagian Pemerintahan dan Otoda. Ketua KPU Surabaya, Robiyan Arifin, mengungkapkan, Banpol (Bantuan Keuangan Partai Politik) oleh Pemda dapat terlaksana apabila kelengkapan persyaratan administrasi telah dipenuhi oleh parpol (partai politik). Apabila persyaratan dalam pengajuan Banpol tidak lengkap, maka penyerahan Banpol tidak dapat terlaksana. ”Jadi, cepat atau tidaknya penyerahan Banpol itu tergantung dari kelengkapan persyaratan yang diajukan oleh parpol.” ujar Robiyan Arifin